Saturday, March 5, 2016

Setelah Sekian Lama Vakum dari Blogging

Hidup itu seperti bunga rumput. Pagi mekar, sore sudah layu. Pun begitu, hidup itu belajar. Learning by doing, nggak pernah terjadi orang belajar hidup dulu, baru dilahirkan.

Walau nampak singkat, ada waktu yang diarungi dalam hidup. Terkadang justru terasa lama dan membosankan. Konsistensi tarik ulur terhadap kemajuan yang menuntut perubahan. Namun sering pula hidup itu seperti roller coaster. Kadang di atas, berarti maju. Kadang di bawah, berarti mundur.

Namun sama halnya dengan roller coaster, hidup selalu bergerak maju. Linier. Seiring waktu. Semua akan kalah oleh waktu. Ada yang memilih hidup mengalir seperti air. Ada yang memilih hidup yang memiliki tujuan. Tidak ada path untuk kesuksesan. Kadang keberuntungan menjungkirbalikkan saran dan nasehat.

Tapi, untuk orang-orang yang tidak menaruh harapan pada keberuntungan, hidup itu seperti menyeberangi sungai dengan sampan. Seperti kapal fery yang menyeberangi selat. Tujuannya lurus di titik sandar di seberang, namun kapal itu harus berjalan zig-zag untuk dapat segera tiba di tujuan. Zig-zag berarti memahami arus air yang mengalir. Tidak melawannya, justru mengikutinya, memanfaatkannya, sembari bergeser sedikit demi sedikit untuk maju ke arah tujuan. Cara itu secara fisika terbukti membuat kapal lebih cepat sampai tujuan dan lebih hemat bahan bakar, dibanding bergerak lurus ke tujuan.

Beberapa orang bilang, itu bergantung situasi. Ada kalanya kita perlu bergerak lurus ketika bahan bakar dan arus tidak terlalu kuat. Ada kalanya memang perlu zig-zag. Namun bisa juga berpikir Out of The Box, lewat jembatan, jika ada jembatan, bahkan terbang jika ada flight yang melayani, hehehe. Pada akhirnya, kondisi lingkungan, fisik dan materilah yang menentukan bagaimana suatu tujuan ditempuh.

Bahkan, tujuan itu sendiri bisa berubah. Kita baru ngeh setelah sekian lama memandang lurus ke arah tujuan. Namun yang jelas, Dia telah memasang tanda-tanda dalam hidup kita. Mengarahkan kita menuju kehendakNya. Dalam perjalanan pemahaman atas tujuan itu kadang orang berpikir ada yang tidak konsisten dari kehendakNya itu. Tetapi, apakah hak kita untuk mempertanyakan pikiranNya? Jalani saja dengan hati yang tetap. Karena tak ada gunanya melawan. TujuanNya tetaplah akan tercapai, hanya persoalannya, waktu itu terus berjalan. Makin lama melawan, makin pendek kesempatan menikmati tercapainya tujuan. Bahkan, jika terlalu tidak taat, malah tidak menikmati tujuan bersamaNya.

Musa dan Daud memberi pelajaran yang berharga tentang tujuan hidup.

Thursday, October 15, 2009

Kementrian Bencana Alam

Merujuk pada julukan bangsa lain tentang Indonesia bahwa negara kita disebut sebagai Disaster Supermarket, dan kenyataannya bahwa kita memang mengalami hampir semua jenis bencana alam, mungkin sudah saatnya kita, bangsa ini, melakukan kontemplasi yang mendalam terhadap kejadian bencana alam yang sering kita alami.

Kejadian bencana di Indonesia sudah merupakan bawaan orok, kondisi natural negara kita memang rentan terkena bahkan menjadi penyebab bencana global. 3 supervolcano yang letusannya merubah dunia dan iklim ada di Indonesia. Negara ini adalah mata cincin gunung api aktif dunia. Semburan lumpur di Sidoarjo volumenya belum pernah terjadi di bagian dunia lain. Indonesia mengalami jumlah korban tewas terbesar saat Tsunami lalu.

Disamping kondisi alam yang rentan bencana, kita dikaruniai kesuburan yang luar biasa, kekayaan alam yang tak terbatas, keragaman hayati yang paling beragam dibanding tempat lain di dunia. Lebih lagi karunia 250jt penduduknya.

Setelah sekian lama kita ngurusi orangnya, penduduknya, kita sadar bahwa, setiap saat bencana alam dapat menghilangkan wujud negara ngurusi warganya.  Begitu banyak kerugian ditimbulkan akibat bencana terhadap segala sesuatu yang sudah dibangun dan dibuat negara bagi kepentingan penduduknya. Begitu banyak dana dibutuhkan untuk melakukan penyelamatan dan rekonstruksi baik sosial maupun infrastruktur yang bertahun tahun dibangun. Kita habiskan dana sekian banyak hanya untuk memperbaiki hal yang rusak akibat bencana, bukan untuk membangun dan menambah yang baru yang lebih baik bagi kehidupan rakyat setempat.

Saatnya kita menaruh respect lebih dalam pada alam kita sendiri, tempat di mana kita hidup ini. Tempat kita mengubur ari-ari kita dan keturunan kita. Bahkan tempat kita tidur selamanya nanti.

Bukti penghargaan dan penghormatan itu dapat di organisasi dan diimplemantasikan dalam tata pemerintahan. Mungkin sudah seharusnya dan saatnya Indonesia memiliki Menteri Alam dan Bencana. Ada departemen gunung aktif dan erupsi tanah, departemen longsor dan banjir, departemen gempa bumi, departemen tsunami dan pasang, departemen perubahan iklim dan cuaca, departemen konservasi dan departemen penanggulangan bencana. Semua memiliki sub departemen keilmuan dan prediksi dan sub departemen informasi dan sosialisasi.

Kalo dulu orang mencibir bangsa ini sebagai Disaster Supermarket, mungkin kelak kita akan dipuji sebagai Rescue and Predict Supermarket. Pusat acuan keilmuan terhadap perilaku alam dan tempat konsep pengembangan perangkat canggih pemantau dan peramal bencana dunia. Kenapa tidak??

Thursday, October 1, 2009

Nuclear Weapon Test Accelerated Global Climate Changing?

Mengacu pada Info ini, setidaknya telah dilakukan 1045+715+45+210+45+6+6+2+5=2079 kali test senjata nuklir sejak 1945. Itupun adalah laporan resmi, belum termasuk yang tidak resmi atau dirahasiakan. Percobaan itu dilakukan baik di permukaan tanah, di udara, bawah tanah dan bawah laut. 90% percobaan itu berkekuatan diatas kekuatan dari Bom Atom Hiroshima. Termasuk 10 percobaan nuklir terdahsyat yang pernah ada (berkekuatan 10-50 Megaton).

Secara alamiah bumi menerima juga radiasi kosmis dari luar angkasa termasuk matahari. Namun radiasi ini sebagian besar dapat dinetralkan oleh tameng sabuk magnetis van allen dan disaring ozon. Diciptakan untuk membendung efek radiasi dari luar bumi. Bagaimana dengan radiasi yang justru dibuat di bumi? Kemana perginya selain diserap oleh tanah dan atmosfer?

Dari inti bumi dipanaskan magma. Dari luar dipanaskan radiasi kosmis. Dari permukaan dipanaskan oleh aktifitas vulkanis dan manusia. Belum ada penelitian mendalam, mana lebih berpengaruh antara aktifitas Industri manusia sejak revolusi industri 3 abad lalu dimulai atau aktifitas peledakan jutaan megaton fusi+fisi+termonuklir sejata nuklir dalam 7 dekade belakangan.

Aktifitas vulkanis disertai turunnya suhu di bawah permukaan, efek ledakannya terserap oleh debu vulkanis, tanah yang terangkat memicu pertumbuhan ekosistem baru yang subur dan kaya. Alam memiliki mekanismenya sendiri untuk membuat iklim tetap stabil atas aktifitas yang dibuatnya.

Kalo aktifitas manusia? Sudahkah manusia memiliki aktifitas yang sebanding untuk menetralkan efek aktifitasnya sendiri? Apa yang terjadi dengan Plastik? Apa yang terjadi dengan Asbes? Apa yang terjadi dengan Bahan Bakar Minyak? Apa yang terjadi dengan material lain hasil industri? Bagaimana mereka kembali ke alam? Apakah tidak menimbulkan efek negatif bagi alam?

Minus aktifitas manusia. Butuh ratusan jutaan tahun untuk terjadinya perubahan iklim ekstrim seperti pernah terjadi pada masa purbakala sebelum manusia ada. Kehadiran manusia memberikan nilai tambah dengan merusak kestabilan alam dan mempercepat perubahan iklim sebagai cara bumi mencari titik stabil.

Industri juga menghasilkan radiasi, walaupun lemah. Tidak demikian dengan percobaan nuklir yang menimbulkan tidak hanya radiasi kuat namun juga partikel radioaktif yang butuh jutaan tahun untuk menjadi plumbum. Kalo bahan untuk PLN bisa ditanam di dasar laut atau tanah dengan perlindungan sangat aman sampai meluruh ribuan tahun lagi (kecuali ada gempa dasyat), bagaimana dengan partikel radioaktif yang dilepaskan saat percobaan nuklir (di tanah/udara/laut)? Kemana dan bagaimana efek radiasi akibat  percobaan tersebut dikompensasi oleh manusia? Ini contohnya.

Dalam Teori Chaos, kepakan kupu-kupu di hutan Brazil dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Kalo ledakan nuklir dianggap kepakan sayap kupu-kupu, tornadonya akan kayak apa?

Kalo manusia gagal melakukan kompensasi akibat aktifitasnya, tentu alam yang akan melakukannya. Masalahnya, apakah manusia tahan dengan cara alam memkompensasi gangguan atas kestabilannya akibat aktifitas manusia tersebut?? Manusia nampaknya hanya berusaha bisa lari menjauh. Mungkin sementara bisa tinggal di koloni di Mars??

Tidak ada ilmuwan yang dapat menjamin, seandainya saat ini emisi carbon industri di-shutdown semua, 5 tahun kedepan pencairan es di kutub dan menipisnya Ozon akan berhenti. Terlalu banyak hal yang kita tidak tahu.  Terlalu banyak hal bisa menjadi aktor (dalam Teori Chaos) yang dapat memicu suatu perubahan yang besar. Apakah para ilmuwan sudah pasti yakin bahwa aktor pemanasan dan perubahan iklim global adalah efek rumah kaca yang dihasilkan oleh industri dan kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar fosil?? Orisinalkah issue ini?? Bukan pengalih untuk tujuan industri tertentu atau pengalih dari penyebab utama sesungguhnya??

Chain reaction. Percepatan mungkin telah dipicu, sang kupu sudah mengepakkan sayap, kita tinggal menunggu tornadonya. Walaupun percobaan senjata nuklir telah dikurangi drastis, walaupun kupu-kupu itu sudah dijadikan souvenir, tornado itu sudah terbentuk sebagai bayi bencana. Tinggal menunggu waktu. Kita sedang merasakan bagaimana bumi mengeluh seperti seorang ibu hamil muda. Yang terberat belum terjadi. Nampaknya.

Sudah saatnya kita Tidak saling membenci dan bertengkar satu sama lain. Sudah saatnya kita lakukan Bailout untuk Bumi. Membantu Bumi mengkompensasi kesalahan-kesalahan kita sendiri.



Tuesday, September 22, 2009

Tidak Didesain Untuk Angkutan Lebaran?

Dalam sebuah dialog di TVOne, seorang petinggi DLLAJR menegaskan hal itu.  Bahwasannya, jalan lalu-lintas utama kita (Pantura, Jalur selatan, Lintas Sumatra, Lintas Kalimantan, Angkutan Kapal dan penyeberangan, Kereta Api, Pesawat Terbang, dll), tidak dirancang dan dibuat untuk keperluan Angkutan Lebaran.

Hebat, luarbiasa! Saya yang tidak ikut lebaran dan mudik saat Lebaran saja, ikut dongkol dengan pernyataan tersebut.  Lalu selama ini jalanan dan transportasi kita ini didesain untuk apa?? Hla, kalo untuk satu moment saja tiap tahun, elemen transportasi kita tidak bisa memenuhinya, bagaimana mungkin akan lancar untuk tiap moment sepanjang tahun untuk angkutan barang dan penumpang? Hla, wajar, kalo tiap tidak ada ruas jalan utama yang mulus sepanjang tahun. Wong untuk sekali setahun saja tidak didesainkan, apalagi untuk sepanjang tahun?

Lebaran ini sudah ada sejak nenek-moyang sang petinggi tersebut lahir. Adalah kewajiban pemerintah melalui perangkat kerjanya untuk menyempurnakan sarana-prasarana transportasi nasional. Kalo memang kepadatan lalu-lintas Lebaran sangat luar biasa, bukankah, situasi itu sudah diketahui sejak sebelum merdeka?? Hla, kenapa tidak merancang moda angkutan dan jalan yang sesuai dengan kepadatan puncak?? Apa jalan hanya diplaning untuk pejalan kaki?? Atau angkutan dokar??

60 tahun sejak merdeka, masih saja uyel-uyelan di kereta api ekonomi. 60 tahun sejak merdeka, masih saja memperbaiki jalan saat Lebaran.  60 tahuns sejak merdeka, masih saja ada jalan utama yang parah rusaknya.  60 tahun sejak merdeka, masih saja tega mengurangi kualitas jalan demi uang di kantong.  60 tahun sejak merdeka, masih saja ada pungli di jalan utama dan angkutan penyeberangan. 60 tahun sejak merdeka, masih juga belum mendesain moda angkutan dan transportasi nasional untuk angkutan masal. Wong sudah tahu penduduk kita bukan ribuan atau jutaan, penduduk Indonesia ini ratusan juta. Wong yo sudah tahu, kalo sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam, tentu perayaan Lebaran adalah kehebohan luar biasa, karena dirayakan oleh sebagian besar penduduk negara ini. Wong ya sudah tahu ada puluhan juta pemudik tiap tahunnya.  Kok masih tidak tahu bagaimana dan untuk keperluan apa sarana-prasarana transportasi Indonesia ini seharusnya didesain? Hla, selama menjabat itu kerjanya apa??

Rakyat kita ini sabarnya luarbiasa.  Sudah setahun berusaha menabung untuk biaya pulang.  Sudah setahun menahan diri untuk memeluk sanak-keluarga.  Sudah setahun bekerja sangat keras dan digaji pas-pasan.  Sudah setahun menahan stress karena kehidupan kota besar yang tak pernah santai.  Pulang mudik dengan kondisi angkutan yang penuh sesak dan kewajiban menjalankan puasa.  Belum lagi copet-copet yang justru makin nekat menjelang Lebaran.  Tambah lagi pungli dan kenaikan harga tiket yang tidak wajar.  Dan lain-lain yang tidak menyenangkan.  Saudara-saudara kita ini tetap melanjutkan perjalanannya sampai ke tempat tujuan.  Dengan sangat luar biasa berusaha tetap bersyukur dan sabar sepanjang perjalannan yang macet dan padat.

Apa yang sudah dikerjakan oleh pejabat-pejabat itu di atas sana untuk mereka?? Sementara banyak organisasi swasta justru mendorong kepatuhan pengendara.

Wednesday, September 16, 2009

Satu Hati Melawan Terorisme

Jengah rasanya mendengar dan melihat bagaimana orang-orang yang merasa sok pintar dan sok tahu, berbicara dengan setengah membenarkan perilaku pemboman bunuh diri dengan alasan agamis.

Orang-orang ini gagal melepaskan diri dari pemikiran yang dikotomis mengenai kegiatan jahat dan pesan agama.

Kira-kira, seandainya ada sorga, kemampuan merakit bom dan meledakkan diri itu dipakai atau ndak, ya, di sana? Apakah sorga yang suci dan damai itu akan menggunakan sifat membenci yang sudah ditanamkan sejak muda hingga mati pada seorang pelaku bom itu di sorga? Ada manfaatnya ndak kemampuan membenci dan membunuh itu di sorga nanti? Kalo latihan terbanyaknya di dunia adalah membenci dan membunuh, kapan dia siap dengan kondisi sorga yang 100 persen positif, damai, membangun, menyembah dengan tulus, menyayangi sesamanya di sorga, tidak ada yang ingin saling menyakiti? Kapan lagi berlatih mengasihi dan menyayangi sesamanya kalo bukan di dunia?

Kegiatan jahat seperti ini tidak ada hubungannya dengan pesan agama. Kalo perlu, cari alasan lain yang bukan agama, asal bisa bikin teror. Islam sebagai agama justru hanya dimanfaatkan, ditunggangi, dikerdilkan oleh pikirian-pikiran orang-orang dan kelompok-kelompok jahat seperti ini. Jika perlu, mengkafirkan sesama Muslim untuk membenarkan perilaku dan pikirannya. Hebatnya, masih saja ada orang yang membela pikiran seperti ini.

Kalo menang, Entitasnya yang terkenal, kalo kalah, Islam yang ditonjolkan.

Kalo Negara Islam, no way, negeri ini bukan milik Islam, Kristen, Hindu, Budha, dll, negeri ini milik semua orang yang ari-ari-nya tertanam di bumi Indonesia. Orang-orang itu tidak semuanya beragama Islam.  Bahkan dulunya, nenek moyang kita adalah penganut animisme sebelum kemudian sebagian besar penduduknya memeluk Hindu. Sebuah Negeri Islami yang Demokratis, kita sudah membuktikannya dan so far so good. Jangan biarkan pikiran-pikiran sesat membawa negeri ini ke suasana seperti di Afganistan dengan Taliban-nya, atau bahkan Jalur Gaza dengan Hizbullah-nya. Apa faedahnya bagi dunia yang dipercayakan Tuhan bagi kita?

Ketika Jalur Gaza, yang bukan wilayah negara kita, diserang oleh Israel, ada orang yang nekat mau mati berangkat berperang ke Jalur Gaza. Tapi ketika pulau-pulau kita diklaim dan diganggu teritorialnya oleh negara Malaysia yang juga berpenduduk sebagaian besar Muslim, tak satupun demo dapat menandingi besarnya demo menghujat Israel?

Pikiran-pikiran jahat itu banyak berkeliaran di mana-mana, mengaburkan batas antara agama dan perilaku terorisme, mengaburkan batas antara agama dan entitas suatu negara, mengaburkan batas antara agama dan praktek politik nasional dan internasional. yang paling dekat, mengaburkan batas antara usaha meraih kekuasaan dengan ajaran agama.

Siapa yang mau datang berperang untuk Muslim Bosnia? Mana bantuan dari Negara Timur-Tengah dan Indonesia, sebesar keinginan hati membantu Palestina? Negara mana di dunia yang paling cepat dan banyak memberikan bantuan kemanusiaan pada Indonesia saat bencana Tsunami di Aceh? Swedia bukan negara Islam yang membantu pemulihan hubungan Aceh Indonesia. Negara mana di dunia yang paling banyak membantu pendanaan pendidikan pesantren di Indonesia? Siapa yang paling gigih menyuarakan dan memperjuangkan nasib suku Muslim Oighur di China ketika terjadai kerusuhan? Adakah setetes madu disumbangkan pada negeri ini dari kumunitas muslim Timur Tengah saat harga minyak memakmurkan negeri mereka? Investasi dari mana yang terbanyak membantu kita menyerap pengangguran di negeri ini? Bahkan, negara mana yang memberikan beasiswa belajar terbanyak ke negerinya untuk kebanyakan orang-orang hebat dari Indonesia? Negara mana yang paling memperjuangkan keanggotaan Indonesia di dewan keamanan PBB, negara mana yang justru bersaing untuk mendapatkan posisi itu?

Terorisme dan radikalisme bukan hanya persoalan dunia Islam, kedua hal tersebut juga menjamur di komunitas agama manapun yang lain di dunia. Terorisme is terorisme. Harus ditekan perkembangannya bersama-sama, bahkan jika mungkin ditiadakan, karena tidak senafas dengan pertumbuhan dan pembangunan menuju kondisi yang lebih baik dan tertib. Hanya chaos yang dihasilkan.

Jika disederhanakan, mana lebih manfaat, membelanjakan duit untuk membeli bahan peledak lalu bunuh diri atau membantu uang sekolah anak yatim agar bisa lulus dengan nilai tinggi? Kenapa kita tidak bisa jadi pelopor metode ekonomi syariah yang profesional dan jujur? Kok malah Singapura yang bukan negeri muslim yang dijadikan kiblat metode perbankan syariah? Apakah negeri muslim di Timur Tengah menerapkan ekonomi syariah sebagai panglima di negaranya? Apakah metode perbankan syariah yang diterapkan oleh bank-bank nasional kita benar-benar syariah, bukannya men-syariahkan bunga, bukannya hanya alat untuk menggaet pelanggan yang tidak paham?

Saat ini juga mulai tumbuh pikiran-pikiran seperti cara pandang kita terhadap konsumen narkoba di negara ini. Pelaku bom bunuh diri yang masih muda-muda itu hanyalah korban pengaruh buruk ajaran agama yang menyimpang. Suatu pemikiran yang berbahaya. Narkoba tidak sama dengan ajaran Islam. Siapa orangnya yang bisa menolak (dengan argumentasi agama yang belum matang) terhadap ajakan pelaku terorisme yang menggunakan ajaran Islam sebagai madu yang (tentu) diyakini kebenarannya tanpa perlu syarat bagi pemeluknya?

Jangan biarkan paham terorisme ini meng-abu-abukan batas hitam putih kriminalitas pembunuhan massal dan ajaran Islam yang penuh berkah dan damai itu. Jangan biarkan mereka menyebarkan dan mengembangkan pikiran dikotomis antara kejahatan dan ajaran agama.  Ini bukan hanya tanggungjawab umat Islam yang agama junjungannya dibelokkan penafsirannya, namun juga segenap pemeluk agama lain. Kenapa, terorisme adalah terorisme, kalo gagal menunggangi Islam, ya tunggangi Kristen, tunggangi Katholik, tunggangi Hindu, tunggangi Budha, dll, karena musuh, bagi mereka adalah Amerika dan semua teman dan kepentingannya.

Amerika adalah musuh bersama menurut paham terorisme, bahkan Amerika diserukan adalah musuh Islam! Hebat, apakah Amerika sebuah agama? Atau, apakah Islam sebuah negara? Suatu pemikiran yang sangat tidak Apple to Apple tentang entitas. Pandangan ini justru syirik karena menyamakan Amerika yang hanya sebuah teritori negara terhadap Islam yang tidak punya teritori alias universal, mencakup semesta dan dimiliki Tuhan sendiri menurut pemeluknya. Begitu kuatnyakah Amerika sehingga Agama alam semesta ini perlu berperang dengannya, perlu karena Amerika mampu membunuh Islam yang punya Tuhan itu?

Kebalikannya, tentu tidak ada satupun pemeluk Islam dalam mashab manapun setuju jika Islam adalah sebuah entitas negara? Hal yang sama konsepnya untuk menyebarkan paham Dunia Barat dan Dunia Islam. Barat ya bandingannya Timur, ajaran agama ya bandingannya ajaran agama. Dalam ilmu apologetika agama tidak ada diskusi tentang ajaran barat dan ajaran Islam, kan? Yang ada ya, ajaran Islam dan Kristen Protestan, ajaran Islam dengan ajaran Hindu, dst.

Sebab di barat pun ada Islam, Turki adalah negara eropa yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Bosnia adalah negara muslim di Eropa juga. Sedang dunia Islam itu terbentang dan terbagi di banyak kontinen, yang secara demografi dan ekonomi memiliki pilihan yang independen sesuai arah ekonomi regional dan global. Dunia Barat tidak melulu berisi non muslim, kalo mengacu pada demografi, kalo mengacu kekristenan, sama halnya dengan Islam yang juga tersebar ndak hanya ada secara demografi di bagian barat, tapi di semua benua. Kalo mengacu pada kapitalisme, sudah disebutkan di muka, semua negara mengacu pada pasar ekonomi global yang menggunakan paham kapitalisme untuk berkomunikasi ekonomi secara universal, sama halnya dengan kesepakatan penggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi bahasa global. Adalah hak setiap negar untuk menerapkan sistem ekonomi yang sesuai dengan kondisi negaranya. Kapitalisme tidak menentang prinsip ekonomi nasional, baik itu agamis maupun komunis.

Kapitalisme hanyalah alat bagi sebuah negara yang pintar seperti China yang sistem politiknya komunis untuk memperkuat ketahanan ekonomi dalam negerinya dan perannya dalam ekonomi global. Kapitalisme justru sebagai kuda tungganagan bagi Singapore untuk mengukuhkan eksistensinya sebagai negara perdagangan termaju di dunia.

Kembali kepada dikotomi Amerika musuh Islam.  Kenyataan menunjukkan bukan 911 yang bikin Amerika terpuruk, bukan perang Iraq yang bikin Amerika jatuh, bukan biaya pertempuran di Afganistan yang membuatnya merana. Ketamakan pelaku ekonominya sendirilah yang menyebabkan terjadinya krisis financial hebat di Amerika. Greedy, kerakusan, hal yang sama yang bisa saja terjadi di faham ekonomi lain, syariah, misalnya. Bukan faham ekonominya yang salah, tapi kerakusan dan ketamakan pelakunyalah yang membuat kejatuhan itu.

Jika prinsip ekonomi syariah saat ini menjadi buah bibir karena ketahanannya dari krisis global akibat kredit perumahan di Amerika, itu hanyala masalah waktu. Masih sedikit orang mengerti dan menggunakan prinsip ekonomi ini. Jika semua orang sudah menguasai prinsip ekonomi ini nantinya, bukan tidak mungkin muncul Madock-Madock lain nanti yang bisa memanfaatkan celah-celah yang ternyata ada akibat penerapan prinsip ini.

Kenapa ndak belajar saja mengendarai kapitalisme dan berhasil seperti China? Tidak perlu bom nuklir untuk mengalahkan Amerika, tahun ini China merupakan pemilik saham IMF terbesar.  Kalo kita mau menghujat IMF, siapa lagi sesungguhnya yang kita hujat? Volume perekonomian China bakal memampukan China menerapkan mata uang global pengganti USD dalam dekade depan, selangkah lebih baik dari Euro.

Kenapa ndak belajar saja seperti Singapore, yang bisa mengemas pohon-pohon makam varietas asli Indonesia dengan harga puluhan kali lebih mahal dari harga belinya dari Indonesia? Ada berapa banyak yatim yang seharusnya bisa sekolah tinggi dan pintar menjadi tertutup nasibnya karena orang tuanya mati kena bom bunuh diri?

Di satu sisi, kita dianggap paling berhasil dalam penanggulangan terorisme, namun di sisi lain, siapapun sangat mudah mendapat informasi dan pengajaran terorisme dan radikalisme di negara ini, bahkan bisa dibeli murah di pedagang-pedagang buku kaki lima!  Lebih mudah belajar jadi teroris daripada hanya ingin mengetahui tentang komunisme.

Paranoid terhadap PKI jauh lebih hebat dari ketidaksetujuan terhadap terorisme. Padahal PKI cuma partai, kalaupun bisa ada, tidak ada lagi tujuan yang relevan bisa diterapkan dan tercapai dalam kondisi Indonesia dan Global seperti ini. Sekarang ini, siapa mau jadi komunis? Kalaupun menganut paham atheis, orang akan tetap mencantumkan nama salah satu agama di KTPnya, kok. Apa ada yang mau dipanggil untuk diajari menjadi komunis? No religion, no way! Indonesia gitu, loh.

Maksudnya, tantangannya lebih sulit untuk membendung paham terorisme daripada hal lain termasuk komunisme, korupsionisme, nepotisme, dan hipokritisme. Dikarenakan pandangan-pandangannya yang meng-abu-abukan batas antara ajaran agama yang berlaku universal dan kekal dengan kepentingan lahiriah yang oprtunistik dan tidak kekal.